26 Agustus 2008

REKOR MURI

rekor-muri

Belakangan saya mendengar bahwa Cilacap akan kembali memecahkan rekor MURI, yakni makan kerupuk dan memasang pin dengan peserta terbanyak dan menyambung tongkat bambu terpanjang. Sebelumnya Cilacap sudah memecahkan rekor Minum Jamu Dengan Peserta Terbanyak, 6956 peserta. pada tanggal 10 Maret 2007, lukisan `graffiti` (lukis dinding) dengan peserta terbanyak yaitu 470 peserta pada 18 Maret 2007, membuat sambal dadakan sebelumnya hanya melibatkan 1.535 peserta dan merias wajah dengan 1.585 peserta 15 Maret 2008, naik egrang dengan peserta terbanyak 1.263 orang 25 Maret 2008.

Yang membuat saya heran rekor yang selama ini diraih adalah kegiatan - kegiatan yang tidak bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Jika pun ada yang merasakan adalah penjual cat (ketika memecahkan rekor graffiti terpanjang), perajin jamu tradisional (ketika memecahkan rekor minum jamu), petani dan penjual cabe (ketika memecahkan rekor membuat sambal), pejual bambu (ketika memecahkan rekor egrang), dan penjual kosmetik (ketika memecahkan rekor merias wajah). Nanti yang akan merasakan untung adalah kembali penjual bambu (rekor menyambung tongkat), pengrajir kerupuk (rekor makan kerupuk) dan pengusaha pembuat pin. Sementara masyarakat lainnya hanya menjadi penonton. Hal ini mengherankan saya karena rekor-rekor yang dicetak ini diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Kalau itu dicapai oleh perorangan barangkali tidak terlalau aneh.

Saya sangat mengharapkan di masa mendatang kalau mau memecahkan rekor maka rekor-rekor yang dipecahkan adalah untuk hal - hal yang dirasakan masyarakat luas. Mengingat pemerintah adalah pelayan masyarakat yang tugasnya ngopeni masyarakat. Misalnya saja memecahkan rekor sebagai kabulaten bebas miras, kabupaten dengan biaya pendidikan termurah, kabupaten tanpa jalan rusak dan lain-lain. Saya pikir itu lebih bisa dirasakan masyarakat luas.

Mudah-mudahan ide sederhana ini bisa direalisasikan dan bisa dirasakan oleh masyarakat.


23 Agustus 2008

BELAJAR DARI PENGALAMAN MEMBENAHI RUMAH

Hampir 4 tahun lalu dengan bantuan dana dari mertua saya membeli sebuah rumah. Sebenarnya ruamh itu jelek dan saya tidak begitu sreg. Tetapi istri saya tertarik dan mendesak saya untuk segera membayarnya. "Nanti keburu mahal", katanya. Sayapun tidak berpikir panjang untuk mempertimbangkan kembali. Ketika itu saya memang sedang tidak bisa berpikir secara lebih jernih. Saya sedang disibukkan dengan keadaan bapak saya yang ketika itu sedang sakit keras. Akhirnya saya pun mengiyakan untuk membeli rumah itu. Paling tidak setelah itu saya tidak didesak lagi untuk mengurus rumah itu. Saya bisa beralih untuk memikirkan bapak saya.
Kebetulan si pemilik rumah tidak meminta agar saya segera membayar cash rumah itu. Dia hanya meminta saya membayar beberapa juta dulu sebagai tanda jadi. Dia pun mengerti dengan keadaan saya saat itu. Bahkan ketika saya meminta waktu beberapa saat untuk mengurus bapak saya diapun mafhum.
Beberapa bulan setelah bapak saya akhirnya meninggal dunia saya baru bisa melunasi pembayaran rumah itu. Ketika akhirnya rumah itu dikosongkan saya pun tidak segera menghuninya. Saya memutuskan akan pindah dari rumah ortu setelah lebaran. Selama belum dihuni itu saya harus bolak-balik menengok rumah. Menyalakan lampu ketika petang dan mematikannya pada pagi hari ketika mau berangkat kerja. Saat itulah saya menyadari bahwa rumah yang saya beli benar-benar rumah bodol (rusak). Atap di salah satu ruangnya yang terbuat dari seng sudah keropos dan menganga. Saya bisa melihat lagit dari lubangnya. Talang di bagian tengahnya bocor tidak mampu menampung luapan air. Tapi apa boleh buat, keputusan sudah diambil. Untuk mengatasinya saya membeli beberapa lembar seng dan karpet talang untuk mengurangi kebocoran.
Hari kedua saya dan keluarga di rumah yang baru kami huni hujan turun dengan lebatnya. Kami harus menyediakan ember dan kaleng untuk mewadahi bocoran yang masuk ke dalam rumah. Sedih juga rasanya punya rumah yang tak memadai begini. Pukul 02.00 saya terbangun saya teringat barang-barang yang belum kami tata di gudang belakang. Lantainya yang lebih rendah bisa banjir kalau air hujan yang merendam lingkungan sekitar meluber. Benar juga, ketika saya bangun air sedang merambat masuk. Buru-buru saya membangunkan istri untuk kerja bakti memindahkan barang ke tempat yang lebih tinggi. Meski kami sudah beusaha keras, tak pelak ada bebeara barang yang harus terendam. Paginya saya pun harus menguras air yang menggenang. Sementara istri saya mengalirkan air dengan sapu lidi ke tempat yang dekat dengan kamar mandi agar air bisa keluar melalui lubang pembuangan air. Duh...
Semenjak itu saya berfikir bagaimana membuat rumah saya nyaman untuk ditinggali. Kalau hujan tidak kehujanan dan kalau panas tidak kepanasan. Yang terfikir adalah berapa lama saya harus menabung untuk bisa memperbaiki rumah. Saya memang tidak mempunyai pengalaman dalam hal bangun membangun sehingga rasanya sulit sekali untuk mewujudkan mimpi membuat rumah layak ditinggali.
Dari hasil bincang-bincang dengan teman-teman saya mendapat sedikit gambaran bagaimana membenahi rumah. Teman kerja saya menyarankan agar saya nyicil dalam memperbaiki rumah. Misalnya punya uang Rp 50.000,00 untuk beli balok dulu barang beberapa batang. Punya lagi beli lagi. Lain waktu beli batu bata atau material lainnya. Namun demikian saya masih bingung harus mulai dari mana dulu. Karena memperbaiki satu bagian pasti akan merembet ke bagian lainya.
Cukup lama saya berfikir sambil prihatin menghadapi berbagai keadaan yang tidak mengenakkan. Samapi akhirnya tetangga belakang rumah memutuskan membuat septic tank baru tepat di belakang rumah saya. Galian lubang yang mau dibuat septic tank ternyata cukup banyak. Istri saya punya inisiatif untuk meminta tanah galian itu untuk mengurug dapur sumah kami yang memang lebih rendah dari lantai bagian tengah dan depan. Si pemilik tanah tidak keberatan. Sekalian saja saya minta dia untuk menggarap pengurugan dan pengecoran lantai itu setelah selesai membuat septic tank. Alhamdulillah dia setuju. Dengan sedikit tabungan yang sudah kami kumpulkan "proyek" itu pun dikerjakan.
Setelah beberapa hari pengurugan lantai dapur ternyata idenya berkembang. Istri saya minta agar tembok yang belum dilepa sekalian. Saya setuju. Ternyata kemudian berlanjut pada perbaikan atap dan talang belakang. Alhamdulillah, dana mencukupi. Pendek kata saat ini rumah kami agaknya sudah cukup layak untuk ditinggali. At least kami tidak perlu menyiapkan ember dan kaleng banyak-banyak untuk mewadahi air curahan dari talang yang bocor. Di samping itu saya sudah mempunyai gambaran bagaimana tahapan-tahapan agar rumah kami lebih nyaman lagi untuk ditinggali.
Rumah memang bukan segala-galanya bagi saya. And toh, kelak juga akan saya tinggalkan. Tetapi dengan rumah yang layak setidaknya saya bisa menjalankan tugas hidup saya dengan baik. Tidak harus terganggu oleh ketidaknyamanan yang mengganggu.
Pelajaran yang bisa saya petik adalah bahwa untuk bisa melakukan sesuatu maka kita harus mencobanya agar kita bisa mengukur persiapan apa yang seharusnya kita siapkan. Sebelum membenahi rumah saya miskin sekali gambaran untuk membenahi rumah. Setelah saya mencoba dengan memperbaiki beberapa bagian saya bisa mengukur kira-kira apa yang harus saya lakukan kemudian, apa saja yang harus saya persiapkan dan bagaimana melakukannya.
Semoga Allah memudahkan kami dalam menjaga amanah ini dan tidak menjadikan urusan ini menjadi pemaling yang akan memalingkan kami dari pelaksanaan tugas kehidupan yang seharusnya kami emban. Mengabdi kepadaNya.


23 Juli 2008

MENIKMATI HIDUP

Ini adalah cerita dari seorang ustadz saya. Al-kisah, seorang pengusaha yang telah bertahun-tahun merintis usahanya akhirnya bisa mencapai suatu kondisi dimana dia bisa memiliki berbagai hal yang dia ingini. Dia pun berhasil membeli sebuah rumah mewah di perumahan elit di sebuah kota di Jawa Tengah. Berbagai fasilitas termasuk kolam renang pun tersedia di rumahnya itu.

Namun demikian bisnis yang ditekuninya dan telah mendatangkan kekayaan memaksanya harus tinggal di Jakarta. Sementara rumah mewahnya hanya ditinggali para pembantunya. Dia tetap harus berfikir keras bagaimana agar usahanya tetap bisa berjalan. Dia harus memutar otak agar tetap bisa survive dan tidak bangkrut. Hanya sebulan sekali dia menyempatkan diri pulang ke rumah mewahnya itu. Pendek kata dia tidak sepenuhnya menikmati rumah mewahnya itu.
Sementara itu pembantu yang menunggui rumah mewah bisa menikmati semua sarana yang ada. Bisa nonton televisi yang fasilitas home teater atau menyaksikan film dari kepingan DVD tanpa harus membayar rekening listrik, bisa memasak dan makan makanan yang selalu tersedia tanpa mengeluarkan uang sendiri untuk membelinya. Bisa berenang di kolam renang bersama teman-temannya sesama pembantu tanpa harus membayar sewa, dan lain-lain.
Kalau kita renungkan, siapa sebenarnya yang menikmati hidup. Si majikan yang punya rumah mewah dan tetap berpikir keras untuk mengumpulkan harta atau para pembantu yang menunggui rumah mewah itu? Apa sebenarnya yang si pengusaha tadi cari. Kalau kekayaan yang dia cari kekayaan ternyata dia tidak menikmatinya. Kalau dia mencari ketenangan hidup buktinya dia masih harus pontang - panting untuk mempertahankan keberlansungan usaha. Barangkali tepat orang yang mengatakan bahwa kesenangan dunia ini seperti air laut. Semakin banyak diminum semakin terasa haus. Kesenangan dunia memang acapkali melalaikan kita dari tujuan hidup yang sebenarnya. Tak jarang kesibukan meraihnya malah menjadi belenggu bagi kita. So, mari tetap ingat pada tujuan hidup sesungguhnya. Meraih kebahagiaan hakiki. Meraih kebahagiaan di kehidupan kekal. Berbekallah. Sesungguhnya bekal terbaik adalah taqwa.



17 Juli 2008

HARI PERTAMA MASUK SEKOLAH

Senin kemarin (14/07/2008) adalah hari pertama anak saya masuk sekolah (TK). Beberapa hari sebelumnya dia begitu antusias ketika kami (saya dan istri) mengajaknya ngobrol soal sekolahnya. Tapi pada hari pertama masuk sekolah malah tampak ogah-ogahan. Pasalnya, kaki sebelah kirinya terluka karena terjatuh di depan rumah mertua saya 5 hari sebelumnya. Sebenarnya hari Sabtu lukanya sudah kering dan ada yang mengelupas. Tetapi justru karena bagian yang mengelupas itu diambil pada hari ahad lukanya jadi bengkak. Hari itu juga saya panggil mantri untuk memberinya obat. Hari senin lukanya sudah mulai layu. Tapi dasar anak-anak, dia ngotot tidak mau masuk. Nunggu kakinya sembuh, katanya.
Namun setelah dibujuk istri saya akhirnya dia mau juga berangkat. Nyatanya di sekolah dia happy aja. Ketika saya jemput, dengan antusias menceritakan apa saja yang dilakukan di sekolah. Anehnya, setelah sampai di rumah dia berkeras besok tidak mau masuk dulu. Masih dengan alasan yang sama. Maka esok paginya susah payah saya dan istri membujuknya untuk berangkat. Akhirnya dia pun mau berangkat setelah dibujuk untuk memakai sandal saja agar lukanya tidak sakit.
Hal lain yang membuat saya heran, sepulang sekolah dia tidak mau diajak ke rumah "mbah putirnya" (neneknya yaitu ibu saya) yang rumahnya terlewati ketika berangkat dan pulang sekolah. Sampai-sampai ibu saya meminta adik perempuan saya menjenguknya. Akhirnya pada hari ketiga ketika berangkat saya sempatkan mengajak dia mampir. Kebetulan dia mau dan ibu saya kelihatan begitu gembira melihat cucu pertamanya mulai masuk sekolah.
Hari - hari berikutnya dia sudah tidak rewel untuk berangkat ke sekolah. Kalau biasanya dia malas bangun pagi, hari - hari belakangan dia cukup mudah dibangunkan. Kadang saya membujuknya untuk melihat teman sepermainannya yang sudah masuk SD. Rupanya dia tertarik untuk melihat temannya itu memakai baju putih merah. Kadang pula saya bujuk dia untuk melihat film kartun yang diputar pagi-pagi di stasiun swasta.
Begini rupanya menghadapi anak yang baru sekolah. Maklum, dia adalah anak pertama saya dan dulu saya tidak njamani sekolah TK. Mudah-mudahan saja semangatnya untuk sekolah tetap tinggi dan keinginannya untuk belajar yang sebelumnya sudah terpupuk sejak belum sekolah tetap membara. Giat belajarlah nak, tantangan di masa depanmu kelak lebih berat dari yang bapak dan ibumu alami kini.

12 Mei 2008

Hidup Enak

Dalam sebuah pertemuan dengan teman-teman ketika teman-teman ditanya menurut persepsi masing-masing 5 dari 7 orang yang ditanya menilai yang dianggap hidupnya paling enak adalah saya. Ketika giliran saya ditanya, saya juga bingung harus menunjuk siapa. Sayapun menganggap saya yang hidupnya paling enak di antara teman-teman, meskipun saya tidak sepenuhnya setuju dengan alasan teman-teman. Saya mempunyai penilaian saya sendiri. Ada satu orang lain lagi yang dianggap hidupnya paling enak. Dia mendapat dua suara termasuk dari dirinya sendiri. Artinya saya mendapat suara terbanyak dalam forum tadi. 

Mendapat penilaian sebagai orang yang hidupnya di antara teman-teman, tidak berarti saya secara materi berkecukupan. Jangan dibayangkan bahwa saya punya rumah yang megah, mobil, gaji yang yang mencukupi kehidupan saya dan sebagaimya. Jangan pula beranggapan bahwa teman-teman saya semua belum punya rumah, kendaraan, dan gaji yang mencukupi. Pada kenyataannya saya memang punya rumah namun sederhana. Itu juga dibelikan mertua. Kalau hujan saya harus menyediakan ember, waskom, dan kaleng bekas untuk mewadahi air hujan yang mengucur deras dari talang yang bocor. Saya bukan tak mau memperbaikinya, tapi saya memang harus menabung dulu. Kalau hari terik ruangan terasa gerah, bahkan kursi tamu ikut terasa hangat karena panas dari atap asbes merambat melalui udara di ruang tamu dan sampai ke kursi. Dindingnya sebagian masih bata merah yang belum ditutup semen, tidak rapi. Sebagian lainya dari triplek dan eternit. Namun kondisi rumah yang seperti itu tidak membuat saya sibuk memikirkannya. Sebab saya memperbaiki rumah dengan dana hutangan – apa lagi jumlahnya tidak sedikit - itu berarti saya membuat belenggu buat saya sendiri. Saya tetap harus bersabar menabung dan berharap Allah melapangkan rizqi buat saya. Saya tidak mau apa yang dialami teman saya berulang pada saya. Dia membangun rumah dengan mengambil hutang dari banyak sumber. Akhirnya dia harus banting tulang untuk melunasi. Kini sebagian besar waktunya habis untuk mencari tambahan bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya karena gajinya sebagai guru habis untuk membayar hutang. Betapapun saya harus mensyukuri karunia bisa memiliki rumah meski sederhana. Barangkali rasa syukur itu yang membuat hidup saya terasa enak.

Alhamdulillah saya juga punya kendaraan. Sepeda motor keluaran tahun 1995 yang kalo direm depan dan belakang sekaligus klaksonnya berbunyi, speedometernya rusak, kunci stangnya harus dibetulkan, dan BPKBnya lagi diurus karena baru balik nama. Namun saya tak mau keadaan motor saya membuat saya pusing. Saya memang memimpikan kendaraan yang lebih layak, tapi saya tidak mau terpenjara oleh mimpi saya itu. Saya harus bersyukur, karena biar begitu motor tersebut saya beli secara tunai. Hal ini membuat saya tidak dikejar-kejar setoran kredit motor seperti 2 orang teman saya. Lagi lagi rasa syukur ini yang membuat saya merasa hidup lebih enak.

Saat ini saya bekerja sebagai karyawan honorer dengan gaji di bawah UMK. Setiap tanggal 1 saya menerima honor dan pada tanggal 10 istri saya memberikan laporan keuangan bahwa APBRT (anggaran pendapatan dan belanja rumah tangga) sudah defisit. Untuk menutup kebutuhan harian, kadang dia meminjam uang dari adik saya atau meminjam uang dagangan majalah saya yang tidak seberapa. Anak istri saya juga sering sakit yang itu mengharuskan kami menyediakan dana untuk berobat. Namun saya tak mau keadaan ini membuat saya ngotot mencari tambahan. Kalaupun saya sering lembur itu lebih karena tuntutan pekerjaan yang memang seringkali menuntut penyelesaian segera. Bukan karena ambisi saya mencari tambahan. (Sekalipun jujur saya akui itu juga cukup membantu). Saya tetap harus memberi jatah waktu untuk keluarga, diri saya sendiri, dan masyarakat. Kendati selama ini belum bisa dikatakan betul-betul seimbang. Keadaan ekonomi yang sulit itu – lebih-lebih sebentar harga BBM bakalan naik dan menyempurnakan kenaikan harga bahan-bahan pokok yang sebelumnya sudah melonjak – saya upayakan tidak menjadi belenggu buat saya. Hal tersebut tak boleh menghalangi saya untuk menafkahkan rizki itu di jalan Allah. Termasuk di antaranya adalah membantu ibu saya yang memang sudah seharusnya menjadi kewajiban saya karena bapak saya sudah tidak ada. Saya mencoba menanamkan keyakinan bahwa rizki yang saya terima adalah milik Allah. Kalau saya belanjakan di jalan yang diridhaiNya sebenarnya saya sama sekali tidak merugi. Bukankah tanda ketaqwaan di antaranya adalah membelanjakan harta di jalanNya di waktu lapang maupun sempit. Dan orang yang bertaqwa dijanjikan akan diberi jalan keluar atas segala persoalan dan diberi rizki dari arah yang tidak terduga. Mudah-mudahan saya bisa bisa meraih predikat mulia itu.

Jadi sebenarnya persoalannya bukan terletak pada kondisi nyata yang ada di luar diri saya. Tetapi terletak pada bagaimana saya memberi persepsi atas realitas di sekelilingnya. Bila saya menganggap keadan rumah, kendaraan, dan penghasilan yang kurang sebagai persoalan besar yang harus dirisaukan dan diberi energi ekstra untuk memperhatikannya maka bukan hal aneh bila itu membuat saya stress dan gering taunen. Tetapi dengan pola berfikir yang saya coba install dalam pikiran saya alhamdulillah saya merasa bisa lebih enjoy dengan tetap mempunyai mimpi dan berupaya mewujudkan mimpi itu.

 

07 Mei 2008

BBM = Bola Bali Mundak

Baru - baru ini pemerintah mengumumkan rencana kenaikan BBM awal Juni nanti. Jenis BBM yang mengalami kenaikan adalah premium dan solar. Wapres mengatakan bahwa kenaikan BBM kali ini tidak akan menimbulkan pengaruh yang besar sebagaimana kenaikan BBM sebelumnya. malah masyarakat bawah menjadi untung karena Bantuan Tunai Langsung yang akan menyertainya jumlahnya lebih besar. Temas saya juga mengatakan ga apa - apa BBM naik. Katanya karena memang sudah seharusnya begitu.
Rupanya Wapres dan teman saya lupa kalau sebelum BBM naik (ya sekarang ini) harga - harga berbagai kebutuhan sudah naik sedemikian tinggi. Apatah lagi nanti ketika BBM dinaikkan. Sekalipun yang naik "hanya" harga premium dan solar tapi keduanya adalah BBM yang banyak dipakai kendaraan umum. Halini pasti akan berpengaruh pada naiknya biaya trasportasi. Tunggu saja, setelah BBM naik para sopir angkutan umum akan segera meminta kenaikan tarif angkutan. Ujung-ujungnya harga barang akan semakin naik dan rakyat miskin semakin menderita. Jikapun ada BTL jumlahnya tentu tidak bisa menghilangkan penderitaan yang diakibatkan secara tuntas.
Yang membuat saya bingung adalah pemerintah sepertinya berkeberatan menanggung subsidi BBM sehingga harus dikurangi tetapi tidak berkeberatan menyerahkan ladang-ladang minyak itu dieksplorasi dan dikeruk keuntungannya oleh asing. Sebenarnya pemerintah itu yang milih rakyat apa pemilik modal asing si ya?
BBM = Bola Bali Mundak (Bolak-balik naik), BBM = Bener-bener Bikin Mumet, Oh BBM... Beban Berat Masyarakat.

05 Mei 2008

POLISI TIDUR

Sesuatu yang tidurnya saja dibenci, apa coba? Polisi tidur. Tepat! di jalan-jalan yang biasa daya lalui baik ketika ke kantor atau ke tempat yang lain sekarang dipenuhi dengan benda satu ini. Di sebuah jalan dekat rumah saya hampir setiap 20 meter terdapat polisi tidur. Di dekati tikungan dekat rumah bahkan dibuat dari gorong-gorong yang kemudian di tuutp semen. Pada awal dibuat polisi tidur ini sangat lancip untuk ukurannya. Suatu hari ketika istri saya harus dirawat di rumah sakit saya meminjam motor milik tetangga sebelah (waktu itu saya belum punya sepeda motor). karena jarang pakai sepeda motor saya jadi kurang terampil. Karena terburu-buru secara tidak sengaja mesin motor yang saya naiki kandas mengenai polisi tidur nan tajam tadi. Dug...! seketika mesinya mati. "Aduh ... ketempuhan* aku!!" batin saya. Kustarter lagi ternyata hidup. Haahhhh....lega. Setelah saya kembalikan tidak ada komplain dari si pemilik.
Yang paling sengsara berhadapan dengan polisi tidur adalah para tukang bakso, tukang siomay, tukang becak, tukang bubur ayam, dan tentu saja tukang mengeluh. Hihihihi.... Saya yang waktu itu kemana - mana naik sepeda juga sengsara. Terutama kalo harus memboncengan anak dan istri. Jegleg ... jegleg.. pantat istriku jadi sakit karena terbentur boncengan sepeda yang keras setiap melewati polisi tidur. Sekarang sudah lebih lumayan karena saya sudah punya sepeda motor, biarpun tua. Namun demikian jumlah polisi tidurnya semakin hari semakin bertambah. Di dekat perempatan polisi tidurnya tidak cukup satu. Ada yang rangkap dua atau tiga. Duh....
Kalau kita amati, pembuatan polisi tidur lebih banyak didasarkan pada suatu kekhawatiran akan terjadi kecelakaan karena para pengendara sepeda, speda motor akan ngebut di jalan yang mulus. Sejauh ini sebenarnya kekhawatiran itu belum pernah terjadi. Tapi kenapa semakin hari jumlahnya terus ditambah, ya? atau kalau ada kekhawatiran begitu kenapa dulu jalannya tidak dibiarkan kasar dan berbatu saja ya?
Buka mata, ini nyata, hanya di Indonesia .....

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons