19 April 2009

Pak Guru... Bu Guru, Apa Kabar? (1)

Kendati kita ketika masih sekolah nakalnya na'udzubillah, tapi ketika telah lulus sekian lama jasa para guru menjadi hal yang tak terlupakan. Tak terkecuali teman-teman seangkatan yang saat ini tersebar di seluruh penjuru dunia.
Berikut saya muat profil beberapa guru yang mengajar saya dan teman-teman seangkatan Alumni 1990 SMA Negeri 1 Cilacap. Mudah - mudahan bisa mengobati rasa kangen teman - teman terhadap mereka. Karenanya tulisan ini memang saya tujukan buat teman-teman alumni SMA Negeri 1 Cilacap khususnya angkatan 1990.

1. Dra. Hastuti, Sk (Bu Tuti - Kepala Sekolah)
Beliau adalah yang menjabat Kepala sekolah jaman. Beliau adalah satu-satunya kepala sekolah perempuan sepanjang sejarah sekolah kita. (setidaknya hingga hari ini). Sekitar tahun 1991 beliau pindah ke Semarang mengikuti suami dan pensiun di sana. Sekarang beliau tinggal di kota lumpia itu.




2. Drs. Akhmad Narsanto (Pak Narsanto - guru Agama Islam)
Orangnya sederhana dan baik hati. Tak pernah marah. Seingat saya dia mengajar saya aktu kelas 1. Ketika itu beliau "ngekos" di sekolahan. Maklum rumahnya jauh di daerah Dukuhwaluh Purwokerto. Karena pertimbangan jauh itulah kemudian pindah tugas.

3. Drs. Muhammad Sukiman (Pak Kiman - guru Agama Islam)
Beliau sebenarnya guru yang diperbantukan dari Depag. Orangnya juga baik hati dan tak pernah marah. Sebelum pensiun beliau dipindah ke SMA Negeri 2 Cilacap sampai pensiun. Terakhir ketemu (sekitar 1,5 tahun yang lalu) beliau masih dalam keadaan sehat, meski tubuhnya tetap kecil seperti dulu.

4. Drs. Wasroh Wahyudin (Pak Wasroh - guru Agama Islam)
Sama seperi Pak Sukiman beliau juga guru Depag yang ditugasi untuk mengajar di sekolah kita. Salah seorang putranya (Novi) adalah siswa seangkatan kita (jurusan Bio). Beliau dipindah tugaskan ke SMA Sri Mukti dan STM Dr. Sutomo sampai pensiun. Di kampung beliau dikenal sebagai tokoh masyarakat. Sering mengisi pengajian. Sehingga di masa purna tugasnya beliau tetap aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.

5. Sardiyo, B.A. (Pak Sardiyo - guru Bahasa Indonesia)
Sebenarnya (menurut ijazahnya) beliau guru bahasa Jawa. Tapi entah bagaimana ceritanya sehingga beliau mengajar Bahasa Indonesia. Salah seorang putrinya (Elisabeth Palupi) adalah angkatan 1990. Kebetulan dia teman SD saya. Saya tidak tahu persis kegiatan beliau setalah pensiun. Karena memang jarang ketemu.

6. Suwardjo, B.A. (Pak Warjo - Bahasa Indonesia)
Agak sulit saya mendeskripsikan beliau ini. Tapi pasti teman-teman tahu mengenai beliau. Meski kini usianya sudah 75 tahun tetapi masih aktif bermain tenis lapangan. Terakhir ketemu beliau 14 Maret lalu, beliau masih begitu semangat. Salah seorang putra beliau (Anang Nurasa - pegawai pramuka) adalah angkatan 1992 dan kini menggantikan beliau sebagai guru Bahasa Indonesia di sekolah kita.

7. Drs. Bambang Purwanto (Pak Bambang Pur - Guru PMP - sekaran PKn)
Beliau sangat gesit menjawab pertanyaan-pertanyaan soal kenegaraan ytang di jaman itu termasuk sensitif. Beliau berani memberi jaminan bahwa pertanyaan itu tidak akan bocor ke mana -mana. Sehingga beberapa orang teman berani bertanya mengenai hal-hal yang ketika itu dianggap tabu.

8. Drs. Tumarja (Pak Tumar - guru PMP dan Tata Negara)
Yang paling membuat saya berkesan adalah ketika sekolah menerapkan aturan bahwa siswa yang datang terlambat 5 menit supaya belajar di perpustakaan. Ketika Pak Tumar datang terlambat lebih dari 5 menit di kelas I-2. Teman - teman pun nyeletuk, "Pak, Guru terlambat 5 menit mengajar di perpustakaan, Pak!". Beliaupun hanya tersenyum. Sekarang beliau menjabat sebagai Kepala SMA Negeri 2 Cilacap dan sebelumnya di SMA Negeri Sampang. Kendati sudah menjadi kepla sekolah beliau tetap rendah hati. Beliau tidak segan untuk turun tangan mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan, termasuk menyapu tempat yang kotor. Kebetulan beliau masih sering ke SMA Negeri 1 Cilacap kaitannya dengan hal - hal yang berkaitan dengan Sub Rayon, Komda, atau hal-hal yang ditangani oleh K3S (Kelompok Kerja Kepalas Sekolah) dimana Kepala SMA Negeri 1 Cilacap menjadi ketuanya.

9. Karneli, B.A. (Bu Karneli - guru Bahasa Inggris)
Beliau termasuk guru senior ketika jaman kita sekolah. Yang tak terlupakan adalah setiap siswa SMA Negeri 1 Cilacap mengikuti kegiatan di alun - alun Cilacap, pasti kumpulnya di rumah beliau di Jalan Kauman. Beliau wafat beberapa tahun lalu di rumahnya di Perum Sidanegara Indah - bukan di jalan Kauman lagi.

10. Drs. Urip Santoso (Pak Urip - Guru Bahasa Inggris)
beliau masuk ke SMA Negeri 1 Cilacap sekitar tahun 1998. Anak Fisik yang paling diingat oleh beliau adalah Claudia, karena kemampuan bahasa Inggris Claudia yang mantab... Kalau pas ngobrol dengan saya blaiu sering tanya, " Bas, kae gemiyen kancamu sing pinter bahasa Inggris sing bocahe putih sapa ya?". "Claudia, Pak?" jawabku setengah bertanya. "Iya...".
Kuat Riyadi si makhluk kriting dari Kawunganten pernah membuat beliau marah gara-gara bercandanya kelewatan. Masa "bulb" dibaca bulep? Kuat... Kuat... nang endi kowe siki. Digoleti pak Urip kae...
Pak Urip masih aktif sampai sekarang si sekolah kita

bersambung dan lebih seru

19 Februari 2009

Fenomena Ponari dan Kegagalan Kapitalisme

Masyarakat Indonesia dihebohkan dengan bocah cilik asal Jombang Jawa Timur, bernama Ponari yang tiba-tiba mendapat kemampuan untuk mengobati berbagai penyakit dengan sebuah batu yang dicelupkan ke dalam air minum. Akibat ekspos media massa yang luar biasa, dengan cepat puluhan ribu orang dari seluruh Indonesia memadati dusun tempat tinggal Ponari di Jombang. Sudah empat orang yang tewas terinjak-injak karena berdesak-desakan di gang sempit menuju rumah Ponari. Memilukan memang. tetapi inilah potret kehidupan masyarakat kita. Kendati sudah jatuh korban, namun tidak menyurutkan keinginan pasien lain untuk mendapatkan pengobatan dari bocah kelas III SD yang terancam drop out karena hampir sebulan tidak sekolah ini.

Ada beberapa fakta yang mengemuka dari fenomena Ponari ini. Pertama, banyaknya masyarakat yang sakit. Hal ini ditunjukkan oleh membludaknya pasien Ponari yang bahkan sempat menembus angka 50.000. Angka kunjungan rumah-rumah sakit sebenarnya cukup tinggi. Sebagian rumah sakit pada waktu- waktu tertentu sampai tidak sanggup menampung pasien sehingga akhirnya pasien dirawat di lorong-lorong rumah sakit atau memilih mencari rumah sakit lain.
Banyaknya masyarakat yang sakit ini akibat tidak adanya pembinaan pola baku sikap dan perilaku sehat baik secara fisik, mental maupun sosial, yang pada dasarnya merupakan bagian dari pembinaan kepribadian. Akibat diterapkannya sistem kehidupan sekuler, pembinaan informasi atau pembinaan kesehatan masyarakat cenderung dipisahkan dari pola pembinaan kepribadian. Tidak ada penekanan bahwa pelaksanaan perintah-perintah Allah dalam persoalan individu sebagai sebuh ketaatan. Termasuk di dalamnya pelaksanaan pola perilaku fisik, mental, maupun sosial yang berkaitan dengan perilaku sehat. Alhasil, pembinaan kesehatan menjadi hal yang tidak mengikat individu. Sementara itu media lebih mendominasi dalam pembentukan opini masyarakat mengalahkan pembinaan yang dilakukan oleh para pengemban dakwah.
Di samping pola perilaku masyarakat faktor lain yang berpengaruh pada rendahnya tingkat kesehatan masyarakat adalah lingkungan di mana merek tinggal. Tata kota dan perencanaan ruang tidak dilaksanakan dengan memperhatikan kesehatan, sanitasi, drainase, keasrian, dan sebagainya juga berpengaruh. Pembangunan pusat – pusat perindustrian tidak saja menimbulkan pencemaran lingkungan tetapi juga memunculkan permukiman kumuh dengan berbagai permasalahannya yang ujung-ujungnya menjadi tembat berkembang biak sumber-sumber penyakit.

Kedua, gagalnya negara dalam memberikan layanan kesehatan yang murah dan berkualitas. Sebagian dari pasien Ponari yang diwawacarai media mengeluhkan mahalnya biaya berobat ke dokter (okezone.com, 10 Februari 2009), sementara layanan kesehatan di puskesmas dinilai buruk. Layanan kesehatan yang buruk ini diakui oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Senin (16 Februari 2009) di Surabaya. Fenomena kemunculan dukun cilik Ponari merupakan kritik keras terhadap buruknya kualitas kesehatan di Wilayah Jawa Timur. Karena itu, perbaikan pelayanan kesehatan di Jawa Timur mendesak dilakukan, ungkapnya. (kompas.com, 16 Febrari 2009)

Ketiga, semakin irrasionalnya masyarakat. Ketika praktek pengobatan Ponari ditutup sebagian warga masyarakat yang hendak berobat mengambil uang bekas mandi Ponari. Mereka bahkan tanpa jijik langsung meminum air comberan itu karena beranggapan air itu dapat menyembuhkan. Sementara yang lain ada uyang mengais-ngais lumpur di dekat rumah Ponari. Fenomena ini seesungguhnya bukan kejadian secara tiba-tiba. Banyak praktik irrasional yang dilakukan masyarakat dan itu dibiarkan bahkan diuri-uri dengan dalih melestarikan budaya. Sebagai contoh, ribuan orang warga Surakarta dan sekitar berebut air bunga jamasan pusaka (pencuci pusaka) milik Pura Mangkunegaran dalam acara ritual malam 1 Sura di Pendopo Pura Mangkunegaran seperti memperbutkan air bekas mencuci pusaka di Solo. Salah satu kerabat Mangkunegaran, Irawati, mengatakan, air bunga jamasan pusaka yang direbutkan masyarakat tersebut merupakan berkah bagi warga yang bisa mendapatkan. Mereka mau berdesak-desakan merebutkan air bunga tersebut dan hal itu dilakukan warga yang berusia tua maupun muda berdesakan untuk bisa meperoleh air bunga itu. (kompas.co.id, 28 Desember 2008).

Bila kita runut ketiga fakta di atas semuanya bermuara pada tidak diterapkannya sistem Islam dalam kehidupan masyarakat sekaligus menunjukkan kegagalan sistem Kapitalisme yang diterapkan saat ini. Sistem kepitalisme sekuler yang diadopsi saat ini secara niscaya menjauhkan agama (Islam) dari kehidupan. Dalam sistem kapitalisme negara tidak berperan sebagai pemelihara urusan rakyat sebagaimana dalam Islam. Negara lebih banyak berfungsi melindungi kebebasan individu, meski pada prakteknya ettap saja hanya individu tertentu yang dilindungi. Termasuk dalam kebebasan yang diagungkan itu adalah kebebasan pemilikan yang membolehkan individu untuk mengumpulkan harta dengan cara apapun. Akibatnya sarana kesehatan banyak didominasi oleh lembaga-lembaga profit yang mencari keuntungan. Tak mengherankan bila kesehatan menjadi barang mahal karena tidak negara tidak menyediakannya sebagai bentuk pelayanan kepada rakyat.
Hal ini berbeda dengan sistem Islam, di mana negara menyediakan layanan kesehatan yang murah (bahkan gratis) tetapi berkualitas, tidak membiarkan masyarakat mengambil resiko karena ketidakberdayaannya di dalam mendapatkan layanan kesehatan. Hal itu dilakukan karena negara bertugas melakukan memelihara uruasan rakyat (ri’ayatus su’uni; ummah) sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw dalam kapasitas beliau sebagai kepala negara dan dilanjutkan bahkan dikembangkan oleh para khalifah sepeninggal beliau. Semua pembiayaan kesehatan itu diambilkan dari Baitul Mal (kas negara). (Lebih lengkap mengenai kebijakan pemerintahan Islam dalam bidang layanan kesehatan silakan klik di sini)
Kebijakan negara dalam masalah kesehatan sesungguhnya tidak berdiri sendiri, melainkan terkait juga dengan bicang-bidang lain seperti ekonomi (terkait soal pendanaan) dan pembangunan tata kota (terkait masalah menciptakan lingkungan yang sehat). Bahkan terkait pula dengan bagaimana negara membina masyarakat menjadi individu-individu yang bertaqwa. Pembinaan kepribadian masyarakat yang diarahkan pada pembentukan pribadi – pribadi yang bertaqwa akan menjadikan masyarakat memiliki pola sikap yang sehat sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah SWT. Selama ini yang melakukan pembinaan individu kebanyakan adalah dari para aktifis dakwah dan lembaga-lembaga keagaamaan, yang bagaimanapun tetap memiliki keterbatasan kemampuan bila dibanding jika hal itu dilakukan oleh negara. Ironisnya, apa yang pembinaan yang telah dilakukan seperti terhapus oleh derasnya arus informasi yang banyak mempropagandakan gaya hidup hedonis dan liberal.
Akhirnya memang tidak bisa diingkari bahwa memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam melalui tegaknya khilafah Islam menjadi sangat urgen. Sekaligus upaya untuk mempertahankan ideologi Kapitalisme semakin tidak menemukan relevansinya. Allahu a’lam.

03 Februari 2009

Selamat Jalan Pak Bardja

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Baru saja saya mendengar berita duka. Salah seorang guru SMA Negeri 1 Cilacap (sekolah dimana saya dulu bersekolah dan sekarang bekerja) yaitu Pak Barjo (Drs. Bardja) meninggal dunia. Beliau menderita sakit sejak pertengahan tahun 2008. Sejak saat itu beliau harus menjalani perawatan di rumah sakit. Awalnya beliau dirawat di Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap, kemudian di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta dan terakhir di Rumah Sakit Hidayatullah Bantul. Dengan perawatan yang harus dijalani secara intensif praktis beliau tidak bisa menjalankan tugas mengajarnya. Namun beberapa kali beliau sempat datang ke sekolah seperti saat acara silaturrahmi dengan para siswa pasca libur lebaran 1429H.
Beliau meninggal dunia para Selasa pagi 3 Februari 2009 sekitar pukul 09.30 wib dalam usia 53 tahun. Beliau meninggalkan seorang istri dan 2 orang putra yang semuanya telah menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Bahkan salah satunya telah menikah dan bekerja sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi di Jawa Timur.
Semasa hidupnya beliau adalah orang yang taat beribadah dan aktif di berbagai kegiatan baik di tempat bekerja maupun di lingkungan tempat tinggalnya. Di samping mengajar di SMA Negeri 1 Cilacap beliau juga pernah mengajar di beberapa SMA swasta di Cilacap, seperti SMA Jenderal Sudirman dan SMA Muhammadiyah Cilacap. Yang luar biasa dari beliau adalah kemampuannya mengingat dengan detail para alumni dari sekolah - sekolah di mana beliau pernah mengajar.
Di lingkungan tempatnya tinggal Pak Bardja pernah menjadi Ketua RW dan menjadi Ketua Ta'mir Masjid.
Semasa sekolah dulu saya pernah diajar beliau tetapi hanya sebentar. Saya lebih akrab dengan beliau justru setelah saya bekerja di almamater saya itu. Saya dan keluarga SMA Negeri 1 Cilacap sangat kehilangan dengan kepergian guru yang berdedikasi seperti beliau ini. Sayang sekali saya tidak bisa ikut berta'ziyah ke Bantul, tanah kelahiran dan tempat dimana beliau akan dimakamkan. Saya harus tinggal di sekolah karena hari ini adalah giliran piket saya.
Mudah-mudahan saja Allah SWT Sang Pemilik Sejati, berkenan menerima amal shalih beliau, mengampuni semua kekhilafan beliau, dan memberi tempat mulia di sisiNya.
Selamat jalan Pak Bardja.
Allahumagh firlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu.

28 Januari 2009

Baju Mana Tangannya

Setiap anak bahkan setiap orang biasanya memiliki ungkapan tersendiri untuk mengungkapkan sesuatu. Baik istilah atau nama khusus untuk ungkapan itu sudah ada atau belum. Seperti misalnya yang terjadi pada anak saya. Beberapa waktu lalu ketika sakit dia minta dibelikan nasi goreng di tempat langganan keluarga kami. Dia bilang, " Pak belinya jangan lama-lama, ya? Da udah kepingin ngunyah?" Da adalah sebutan untuk menyebut dirinya sendiri (namanya Rifda). Sedangkan kepingin ngunyah maksudnya dia sudah kepingin banget makan nasi goreng.
Dulu waktu dia masih berusia sekitar dua tahun dia pernah meminta memakai baju yang dia sebut "baju mana tangannya". Anda tentu bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan baju mana tangannya. yang dia maksud adalah baju yang lengannya kepanjangan. Ketika dia memakai baju itu tanganya tidak kelihatan sehingga adik saya meledeknya dengan mengatakan," Lo? mana tangannya?". Maka muncullah istilah baju mana tangannya.
Tidak hanya anak-anak yang memang informasi mengenai dunia sekelilingnya masih tebatas. Teman saya yang usianya hanya berselisih 1 tahun dari saya (artinya dia sudah dewasa) pernah menanyakan kepada saya dimana "sapu karpet" disimpan. Saya sempat bingung dengan pertanyaannya. Ternyata yang dia maksud adalah vacuum cleaner.

19 Desember 2008

PRESTASI KEHIDUPAN

“IP kok 4,00…” kata seorang guru di tempat saya bekerja ketika mengomentari seorang pembicara pada pengajian sehari sebelumnya. Pembicara tersebut merupakan lulusan terbaik dari sebuah universitas swasta di Yogyakarta. “Padahal dulu jaman saya kuliah untuk mendapatkan IP 2 lebih saja sudah susah…” tambahnya. Sambil berkelakar saya bilang katakana, “ Pak, begitu dapat ipe (bahasa Jawa : ipar) saya langsung 3, Pak. Soalnya istri saya anak nomor 4….”

Bagi kebanyakan orang prestasi akademik memang merupakan hal yang menakjubkan. Sehingga bila ada mahasiswa yang IP nya 4 atau ada siswa yang nilainya 8 atau 9 sungguh suatu hal yang luar biasa. Yang menyedihkan adalah obesesi untuk mempunyai prestasi akademik sering kali membuat siswa atau mahasiswa menempuh berbagai cara. Salah satunya dengan menyontek. Kebiasaan ini sudah sangat lazim di kalangan mereka. Bahkan menemukan siswa atau mahasiswa yang tidak menyontek cukup susah. Mereka sudah menjadi makhluk yang harus dilindungi dari kepunahan.

Buat saya pribadi memiliki prestasi akademik bukanlah sesuatu yang terlalu luar biasa. Sebenarnya hanya dibutuhkan ketekunan untuk mempelajari apa yang memang harus dipelajari. Di era internet seperti sekarang ini untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan sudah teramat mudah. Kita tidak perlu membeli buku tebal yang harganya mahal. Cukup dengan searching di internet, informasi apa yang kita butuhkan tersedia. Berbagai ebook tentang berbagai hal bisa dengan mudah kita download. Apalagi bila kita menguasai bahasa asing (Inggris dan Arab misalnya) semakin lebih banyak lagi yang bisa kita eksplor. Sementara warnet saat ini sudahmenjamur dimana-mana. Persoalannya tinggal mau atau tidak untuk belajar.

Hal yang membuat saya takjub adalah orang – orang yang justru memiliki prestasi dalam kancah kehidupan nyata. Orang yang mampu melakukan sesuatu yang secara nyata dirasakan manfaatnya oleh orang banyak. Misalnya di tempat saya bekerja ada seseorang yang selalu berobsesi melakukan perubahan dimanapun ia berada. Di antaranya dia pernah mengusulkan dan mendorong agar dibuat aplikasi agar pelayanan perpustakaan bisa dikomputerisasi. Berkat ide dan lobinya kini perpustakaan di tempat saya bekerja sudah computerize. Mulai dari pengisian daftar hadir pengunjung, katalog, peminjaman dan pengembalian kini sudah bias dilakukan lebih cepat. Ide awalnya adalah dia ingin mengumpulkan orang-orang yang suka bergelut dengan komputer seperti saya agar bisa menghasilka yang bermanfaat. Akhirnya muncullah ide tadi. Prestasi lain darinya adalah ketika dia berupaya menyatukan beberapa local dari bangunan sekolah yang terpisah. Maksudnya agar ketika hujan deras dating para guru tidak kesulitan menjangkau lokal-lokal kelas yang terpisah. Idenya ini mendapat tentangan keras, karena harus mengorbankan salah satu kelas. Tetapi dia berkeras dan berupaya melobi agar idenya terlaksana. Ketika kemudian berhasil semua bisa merasakan manfaatnya. Kini baik guru maupun siswa bisa mencapai bagian bangunan yang manapun tanpa harus membawa paying ketika hujan deras turun.

Buat saya hal seperti di atas adalah sebuah prestasi yang menakjubkan. Begitupun ketika seseorang yang karena wawasannya yang luas dia bisa memberikan solusi atas berbagai persoalan yang ada di sisinya. Dia menjadi rujukan ketika orang punya masalah. Demikian juga para pengemban dakwah yang selalu tekun menyampaikan kebenaran dan memotivasi orang untuk taat kepada Allah, kemudian orang – orang mengikutinya. Mereka adalah orang – orang berprestasi yang mengagumkan kendati tidak punya prestasi akademik yang luar biasa. Mereka adalah orang-orang yang menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Mereka adalah sebaik-baik manusia sebagaimana sabda Nabi, “Khairunnas anfa’uhum linnas” (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain.

27 November 2008

Pro Syariah, Blog Baru Saya

Setelah sebelumnya saya meluncurkan beberapa blog dengan berbagai kekhususan, seperti blog ini yang khusus menampung tulisan-tulisan saya, kobermaca untuk menghimpun tulisan-tulisan mengenai motivasi, my tangue untuk menampung hasil uji coba menulis dalam bahasa inggris, kini saya meluncurkan blog baru lagi. Blog ini saya dedikasikan untuk mendukung perjuangan menegakkan syariah. Isinya mengenai himpunan berita atau artikel hasil penelusuran di dunia maya, dengan harapan berita-berita atau artikel ini menjadi penambah wawasan bagi para pejuang syariah dalam menjelaskan kepada masyarakat mengenai urgensi penerapan syariah dan dalam membongkar konspirasi yang membahayakan Islam dan kaum muslimin. Silakan kunjungi dan tinggalkan pesan di blog saya tersebut di alamat httl://pro-syariah.blogspot.com. atau klik saja gambar di bawah ini.
Selamat berkunjung.


06 Oktober 2008

ADA APA DENGAN MUDIK?

Salah seorang teman begitu risau dengan fenomena mudik yang baru saja berlangsung beberapa waktu lalu. Berbagai peristiwa kecelakaan dan tindakan kriminal yang menimpa para pemudik tidak saja merisukan beliau ini api juga kita semua. Wajar bila kemudian beliau bertanya-tanya kenapa orang sedemikian rupa ingin mudik hingga rela berdesakan di kereta api, di bus, di kapal laut sekadar agar bisa pulang kampung. Padahal dari tahun ke tahun kerban sudah banyak berjatuhan. Kenapa orang tidak berdesakan di masjid berburu malam lailatul qadar. Bukankah ini yang seharusnya dicari pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan, tanya beliau.
Kegelisahan yang terus menerus disampaikan beliau kepada saya baik secara langsung maupun via sms, tak pelak membuat saya ikut merenung. Ada apa sebenarnya dengan fenomena mudik ini? Bukankah keinginan bertemu keluarga adalah sesuatu yang wajar? Tapi kenapa yang harus menjadi peristiwa yang begitu menguras energi, waktu dan harta sedemikian rupa?
Ada beberapa hal yang berhasil saya catat dari fenomena tahunan ini. Pertama, keinginan untuk pulang kampung dan bertemu keluarga adalah sesuatu yang secara wajar. Manusia memiliki naluri untuk dekat dengan kaum kerabatnya. Kerinduan kepada orang tua, anak, saudara, dan kerabat adalah sesuatu yang lumrah. Momen lebaran adalah kesempatan yang langka, dimana orang bisa pulang kampung dan bertemu dengan keluarga. Karena pada hari-hari biasa untuk mengambil libur bukanlah hal yang mudah, apalagi bagi mereka yang bekerja di kantor atau perusahaan.
Kedua, pembangunan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang lebih banyak terpusat di daerah tertentu (Jabodetabek, misalnya) membuat orang berduyun-duyun pergi ke kota untuk bisa menikmati kue pembangunan. Bak pepatah ada gula ada semut, orang - orang desa dan kota kecil banyak berpindah ke daerah yang banyak terdapat industri yang menyediakan lapangan kerja. Wal hasil kepadatan penduduk beserta segala implikasinya menjadi sebuah keniscayaan. Ini bisa kita lihat dari betapa sepinya Jakarta ketika libur lebaran, yang menunjukkan sebagian besar penduduknya adalah pendatang. Dengan demikian ketika arus mudik berlangsung terjadi semacam "pengosongan kota". Warga Jakarta khususnya berhamburan di terminal, stasiun, pelabuhan, dan bandara. Terjadilah kemudian yang namanya kemacetan di berbagai titik. Kecelakaan lalu lintas pun menjadi sebuah akibat yang selalu muncul dalam kondisi seperti itu. Seandainya pusat-pusat kegiatan ekonomi itu merata bahkan pembangunan merata di seluruh penjuru negeri tentu pencari kerja tidak terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu dan fenomena mudik tidak menjadi sedemikian nggegirisi seperti sekarang.
Ketiga, aktivitas mudik sesungguhnya hanya butuh waktu beberapa hari atau beberapa jam. Masih ada waktu bila kita mau memanfaatkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan. Tetapi memang tidak bisa maksimal. Karena kita tidak bisa memastikan kapan turunnya Lailatul Qadar. Bisa jadi dia turun saat para pemudik sedang dalam perjalanan.
Tidak hanya dibutuhkan kesadaran individu untuk menjadikan Ramadhan sebagai momen yang benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan ketaqwaan individu. Dibutuhkan pula kebijakan dari para pemegang tampuk kepemimpinan negara agar aktivitas di bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri tidak hanya sebagai pemusatan kegiatan ekonomi. Tetapi saya pikir sangat sulit bila negara tidak menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan yang mengatur masyarakat secara keseluruhan. Hanya bila syariat Islam ditegakkan dan negara hadir sebagai penjaganyalah persoalan masyarakat akat terselesaikan, termasuk persoalan mudik tadi.
Allahu a'lam.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons