06 Oktober 2008

ADA APA DENGAN MUDIK?

Salah seorang teman begitu risau dengan fenomena mudik yang baru saja berlangsung beberapa waktu lalu. Berbagai peristiwa kecelakaan dan tindakan kriminal yang menimpa para pemudik tidak saja merisukan beliau ini api juga kita semua. Wajar bila kemudian beliau bertanya-tanya kenapa orang sedemikian rupa ingin mudik hingga rela berdesakan di kereta api, di bus, di kapal laut sekadar agar bisa pulang kampung. Padahal dari tahun ke tahun kerban sudah banyak berjatuhan. Kenapa orang tidak berdesakan di masjid berburu malam lailatul qadar. Bukankah ini yang seharusnya dicari pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan, tanya beliau.
Kegelisahan yang terus menerus disampaikan beliau kepada saya baik secara langsung maupun via sms, tak pelak membuat saya ikut merenung. Ada apa sebenarnya dengan fenomena mudik ini? Bukankah keinginan bertemu keluarga adalah sesuatu yang wajar? Tapi kenapa yang harus menjadi peristiwa yang begitu menguras energi, waktu dan harta sedemikian rupa?
Ada beberapa hal yang berhasil saya catat dari fenomena tahunan ini. Pertama, keinginan untuk pulang kampung dan bertemu keluarga adalah sesuatu yang secara wajar. Manusia memiliki naluri untuk dekat dengan kaum kerabatnya. Kerinduan kepada orang tua, anak, saudara, dan kerabat adalah sesuatu yang lumrah. Momen lebaran adalah kesempatan yang langka, dimana orang bisa pulang kampung dan bertemu dengan keluarga. Karena pada hari-hari biasa untuk mengambil libur bukanlah hal yang mudah, apalagi bagi mereka yang bekerja di kantor atau perusahaan.
Kedua, pembangunan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang lebih banyak terpusat di daerah tertentu (Jabodetabek, misalnya) membuat orang berduyun-duyun pergi ke kota untuk bisa menikmati kue pembangunan. Bak pepatah ada gula ada semut, orang - orang desa dan kota kecil banyak berpindah ke daerah yang banyak terdapat industri yang menyediakan lapangan kerja. Wal hasil kepadatan penduduk beserta segala implikasinya menjadi sebuah keniscayaan. Ini bisa kita lihat dari betapa sepinya Jakarta ketika libur lebaran, yang menunjukkan sebagian besar penduduknya adalah pendatang. Dengan demikian ketika arus mudik berlangsung terjadi semacam "pengosongan kota". Warga Jakarta khususnya berhamburan di terminal, stasiun, pelabuhan, dan bandara. Terjadilah kemudian yang namanya kemacetan di berbagai titik. Kecelakaan lalu lintas pun menjadi sebuah akibat yang selalu muncul dalam kondisi seperti itu. Seandainya pusat-pusat kegiatan ekonomi itu merata bahkan pembangunan merata di seluruh penjuru negeri tentu pencari kerja tidak terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu dan fenomena mudik tidak menjadi sedemikian nggegirisi seperti sekarang.
Ketiga, aktivitas mudik sesungguhnya hanya butuh waktu beberapa hari atau beberapa jam. Masih ada waktu bila kita mau memanfaatkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan. Tetapi memang tidak bisa maksimal. Karena kita tidak bisa memastikan kapan turunnya Lailatul Qadar. Bisa jadi dia turun saat para pemudik sedang dalam perjalanan.
Tidak hanya dibutuhkan kesadaran individu untuk menjadikan Ramadhan sebagai momen yang benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan ketaqwaan individu. Dibutuhkan pula kebijakan dari para pemegang tampuk kepemimpinan negara agar aktivitas di bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri tidak hanya sebagai pemusatan kegiatan ekonomi. Tetapi saya pikir sangat sulit bila negara tidak menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan yang mengatur masyarakat secara keseluruhan. Hanya bila syariat Islam ditegakkan dan negara hadir sebagai penjaganyalah persoalan masyarakat akat terselesaikan, termasuk persoalan mudik tadi.
Allahu a'lam.

3 komentar:

danu.crown mengatakan...

nice posting. Happy Ied 1429 H, taqobalallah minna wa minkum.

http://wwwambassador.blogspot.com
http://www.tohjoyo.wordpress.com

Langgeng mengatakan...

Thank's a lot for your comment, Pak Danu. Happy Ied 1429H, too. Minal Aa'idin wal faizin.

Heny mengatakan...

saya orang yang gak pernah mudik, tapi ikut berbahagia melihat saudara-saudara lain pada mudik...hanya perlu hati-hati, terutama keselamatan anak-anak yang harus diperhatikan, jangan biarkan ana-anak yang ikut naik motor keanginan, kehujanan, tanpa helm lagi...semoga para orang tua bisa memperhatikan hal ini untuk keselamatan

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons