22 April 2008

PEMECAH BATU

Beberapa hari ini saya mendapati 3 berita dari 3 stasiun televisi swasta yang berbeda. Berita yang diangkat bertema sama yakni hari Kartini dan kehidupan para perempuan pemecah batu. Ketiga stasiun televisi tersebut memandang bahwa mereka perempuan pemecah batu adalah kartini masa kini. Karena mereka tidak hanya mengurus rumah tapi juga ikut berjuang menghidupi keluarga medki dengan pekerjaan kasar menjadi pemecah batu yang nantinya akan dijual sebagai bahan bangunan. Mereka setiap hari menempuh jarak berkilo - kilo untuk mengambil batu yang kemudian akan dipecah dan dijual. Ada di antara mereka yang bahkan sambil momong (mengasuh anak).
Sudah bisa dipastikan bahwa kehidupan mereka tentulah sulit. Suami - suami mereka tentunya juga tidak memiliki penghasilan yang mencukupi. Sebab kalaulah mencukupi mana mungkin mereka bersusah payah mengumpulkan dan memecahkan batu yang ketika dijual harganya juga tidak seberapa.
Yangmembuat saya heran adalah pandangan bahwa mereka adalah Kartini - kartini masa kini. Setahun saya kartini tidak pernah memperjuangkan agar kaum perempuan menjadi seperti mereka. Kartini justru berjuang agar kaum perempuan memiliki derajat yang mulia. kartini memperjuangkan agar kaumnya mendapatkan pendidikan pengajaran yang memadai agar dapat menjalankan fungsinya sebagai pendidik manusia yang pertama - tama.
Melalui suratnya kepada Prof Anton dan Nyonya, pada tanggal 4 Oktober 1902, R. A Kartini mengungkapkan : "Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama."
Jadi para perempuan pemecah batu bukanlah Kartini - Kartini masa kini. Mereka justru adalah korban dari sistem ekonomi yang gagal mensejahterakan rakyat. Seharusnya pemerintah menerapkan sistem ekonomi yang mensejahterakan rakyat. Tidak membiarkan sumber - sumber kekayaan dikuasai oleh segelintir orang sementara rakyat kebanyakan harus berebut mendapatkannya dan akhirnya memakan korban. Kalau itu sudah dilakukan, rakyat telah disejahterakan saya kira tidak perlu ada perempuan - perempuan pemecah batu. Mereka cukup tinggal di rumah - rumah mereka dan berkonsentrasi menyiapkan generasi unggul untuk kemajuan negeri ini.

2 komentar:

Kautsar Saimima mengatakan...

yah, namanya berita... yang diliput ya yang sedih sedih dulu pak. tapi kayaknya ada tuh "Miranda Gultom" pejabat tinggi wanita pertama di BI. pesan2 saya buat para wanita, klo mengusung kesetaraan Gender (baca:jender) jangan berlebihan ya, hormatilah suamimu (bukan calon suamimu lo ya..). Betul ga pak?

Langgeng mengatakan...

Ya. Sebenarnya yang saya soroti adalah para pemecah batu adalah kaum yang termiskinkan oleh sistem. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari korban sistem kehidupan buatan manusia. Sudah saatnya kita tinggalkan sistem itu dan kembali ke sistem Islam.
Kemuliaan wanita sesungguhnya hanya ada dalam Islam. Hanya Islamlah yang mampu menempatkan wanita dalam kedudukan yang mulia. Wajibnya kaum pria menafkahi mereka (dan tidak mewajibkan wanita mencari nafkah) adalah sebagian bukti betapa Islam teramat melindungi wanita. Namun orang sering menuduh hukum Islam lebih cenderung berpihak pada kaum pria. Padahal berbagai kekerasan dan penganiayaan yang menimpa wanita bukan karena penerapan Islam. Justru karena mencampakkan Islam.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons